2019 - Tentang Menghargai Proses









I have to admit, 2019 was BEYOND anything I could ever imagine :’) Aku melewati sebuah milestone dalam hidup dan mencapai sebuah cita-cita yang sudah terniat sejak lebih dari satu dekade lalu: menunaikan ibadah haji.

Now, I’m not going to tell you about my Hajj journey. Rasanya, perjalanan itu begitu indah dan menyenangkan, sampai aku khawatir tak punya kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya.

Yang aku ingin ingat dari tahun 2019 ini adalah justru bagaimana aku melihat diri sendiri menghargai setiap proses yang aku lalui. Meskipun ibadah ini dilakukan ‘hanya’ dalam waktu beberapa hari di bulan Agustus, tapi rasanya seluruh tahun 2019 adalah tentang usaha-usaha memetik hikmah ibadah haji.

Ia dimulai dengan niat dan keyakinan: segalanya dilakukan dalam rangka ibadah, dan oleh karenanya, Insya Allah akan ada jalan.

Terdengar sederhana dan klise. Tapi astaga… kalau aku lihat kebelakang, niat yang dilakukan dengan sepenuh hati itu sungguh memberikan aku banyak kekuatan. Ia membantu membuat aku menjadi mindful – menjadi sadar akan segala yang kulakukan. Ia bahkan memberi kesabaran, juga pemahaman dan kebiasaan baru.  

Masih aku ingat jelas saat pertama kali hatiku berniat ingin haji. Waktu itu aku dan abang baru menikah dan baru punya rumah. Aku sedang membersihkan lemari kecil di dapur dan tak sengaja menemukan sebuah majalah bertajuk ALIF, kependekan dari Alhamdulillah It’s Friday. Cover Story-nya adalah tentang naik haji di usia muda. Kebiasaan, aku bukannya lanjut beres-beres, malah jadi duduk dan membaca.

Ulasannya begitu menarik. Premis utamanya, ibadah haji itu sangat mengandalkan fisik. Jadi akan jauh lebih mudah jika dilakukan saat masih kuat. Ada banyak hal yang diceritakan disitu, aku lupa detailnya. Yang pasti, artikel itu menyentuh sekali dan aku membatin di hati: semoga aku diizinkan untuk berhaji di usia muda.

Begitupun, rasanya dulu itu hanya ‘sekedar ucapan’. Kalau kalian kenal aku 11-12 tahun lalu, sepertinya itu hal yang jauuuh sekali. Aku juga menertawakan diri sendiri. Sholat aja kadang masih bolong, kok pede banget pengen naik haji! Tapi… ternyata, lima tahun setelah itu, (thanks to financial planning!) aku dan abang punya cukup uang untuk mendaftar haji. And the rest is history.

Dari situ, aku mendapatkan pelajaran: bahwa jika ingin mengubah sesuatu, aku juga harus percaya dengan proses yang tidak instan. Segalanya butuh waktu. Ini juga yang membuatku mengubah persepsi tentang haji. Dulu, kupikir, saat kita naik haji, kita akan mendapatkan semacam pencerahan. Kupikir, Makkah dan Madinah adalah sebuah tempat yang ajaib, yang akan membuat kita jadi orang yang lebih baik. Tapi, ya tidak begitu juga kan?

Ibadah haji adalah ibadah yang kompleks. Ia membutuhkan fisik yang kuat, materi yang tidak sedikit, ilmu yang cukup agar paham tata cara ritualnya (serta mampu melihat filosofi dibaliknya), serta keikhlasan untuk melakukan itu semua.  Dan untuk bisa mencapai itu semua, aku harus mempersiapkan diri sedini mungkin. Setelah itu, saat pelaksanaan ibadah haji, semua persiapan ini akan dipraktekkan. Dan bahkan, yang terpenting dari semua itu adalah, bagaimana segala pengalaman dan pelajaran yang didapat saat ibadah haji, bisa diterapkan saat sudah kembali.

Jadi, buatku, jelaslah ini semua adalah proses. Tidak ada yang sekonyong-konyong menjadi baik. Itulah mengapa seluruh tahun 2019 ini bagiku adalah proses. Bagaimana awalnya aku berniat, lalu niat itu kemudian membuka pikiranku hingga bisa sampai pada kesimpulan seperti ini, dan kemudian benar-benar melakukannya.

Contohnya seperti ini. Dari berniat untuk sehat selama ibadah haji, aku kemudian membiasakan diri untuk olahraga. Awalnya hanya yoga 15 menit, tapi konsisten setiap hari. Lama-lama badannya jadi terbiasa dan minta ‘lebih’ dengan sendirinya. Pelan-pelan, aku menambah waktu yoga plus jalan, atau joget (iya, joget :D). Sesekali ditambah berenang. Lalu dibarengi dengan memperbanyak makan sayur, dan istirahat yang cukup. Ini membuatku cukup kuat selama ibadah haji. Jauh dari sakit, dan kuat berjalan berkilo-kilo dalam sehari. Dan bahkan, hingga saat ini, kebiasaan ini tetap melekat.

Atau, aku juga berniat untuk belajar lebih banyak soal agama dan menambah ibadah-ibadah sunat agar saat haji sudah terbiasa. Awalnya hanya merutinkan diri membaca Al Quran, 3 ayat selepas sholat wajib, tak perlu banyak-banyak. Tapi konsisten. Lama-lama, karena terbiasa, bacaan jadi bertambah. Tak hanya Quran, tapi tafsirnya. Lalu buku-buku lain. Lalu mengikut dzikir pagi sore sedapatnya, dan sholat-sholat sunat lain. Dan saat mempraktekkannya selama haji, aku merasa fokus dan betah berlama-lama menikmati setiap ritual. Bahkan, hingga saat ini, aku masih memelihara kebiasaan ini.

Ada banyak kebiasaan lain yang kumulai dengan cara seperti ini. Tentu masih ada naik-turun, tapi aku sungguh menikmati prosesnya. Langkah-langkah yang sangat kecil, tapi kemudian saat lihat ke belakang membuat berfikir: wah… Alhamdulillah sudah lumayan jauh juga! Membuatku sungguh ingin memeluk diri sendiri dan mengatakan, “Dinda, you did great!

Dan yang paling penting dari 2019 selain membangun kebiasaan baik dari hal-hal yang sederhana, adalah kemampuanku untuk berefleksi jauh ke dalam. Ibadah haji memberikan cermin yang jernih untuk aku berkaca. Memberiku jalan untuk mengenal diri sendiri, dan berusaha untuk mencintainya dengan sepenuh hati.

Aku belajar, hidup tidak mudah. Ia harus diusahakan dengan segenap jiwa raga. Begitupun, hidup juga terus berubah setiap detiknya. Dan dengan niat baik serta keyakinan, Insya Allah aku bisa menjalani masa depan dengan lebih tenang.

-->
Terimakasih banyak 2019 untuk semua kebahagiaan yang tak terlukiskan, dan pelajaran yang begitu dalam. Dan untuk awal dekade baru, 2020, Bismillah…



Comments