Monday, June 10, 2013

Project Love: Pada Mulanya.

Sambungan dari posting sebelumnya 

"The best camera is the one that's with you." - Chase Jarvis

Kamera yang terbaik adalah kamera yang selalu dibawa kemana-mana. Dan di saat banyak ‘fotografer’ dengan bangga menenteng lensa sebesar termos (padahal kadang-kadang hanya karena gaya!), aku justru kerajingan kamera Iphone. Kenyataan bahwa ia selalu ada di genggaman dan dapat dengan mudah digunakan, menumbuhkan lagi perasaan excited, sama seperti ketika punya SLR pertama, sepuluh tahun lalu. 

Dan terpujilah Instagram karena memberikan tempat penyaluran! Sepanjang tahun 2012, aku dilanda euforianya. Foto-foto yang diambil, ditambah dengan caption penuh cinta (ehem!), menjadikannya semacam kejutan harian yang bisa aku berikan untuk si Abang. Memberikannya sedikit alasan untuk tersenyum, ditengah pekerjaan yang (bisa dibilang sangat) membosankan. Agar ia tau, meskipun kami terpisah jauh, ia selalu ada dalam hatiku.
 
Lalu ide itu muncul sekitar Agustus 2012, dua bulan menjelang ulang tahun Abang. Saat itu aku tengah mencari-cari ide untuk kado. Lalu, sekonyong-konyong terpikir, kenapa tidak memberikannya foto-foto di instagram itu? Aku bisa memilih beberapa foto terbaik, kemudian dijadikan buku. Aku dan Abang adalah jenis orang yang sangat menghargai kado yang personal, yang dibuat sendiri. Bisa jadi ini adalah kado yang tepat!

Dengan tekun, aku memilih semua foto yang pernah aku jepret dengan Iphone. Baik yang sudah pernah diunduh ke instagram, atau yang tidak diunduh, tapi aku suka. Setelah timbang sana-sini, hasilnya ada sekitar 200 foto! Setelah di-print seukuran postcard, tebalnya 8 cm saja! Bagaimana lagi aku harus memilihnya??? *nangis*




Meminta bantuan orang lain tentunya punya konsekwensi. Ini sama artinya dengan mengekspos diri sendiri, harus siap mental untuk “dibantai” habis oleh kritik. Untuk sebuah proyek pribadi, rasanya kok too much ya? Apalagi aku tak pernah cukup percaya diri dengan karya-karyaku.

Dengan banyak pertimbangan, akhirnya aku menyerah dan memanggil bala-bantuan. Berkali-kali terlibat dalam pembuatan buku foto teman-teman di Galeri Foto Jurnalistik Antara, ini adalah saat yang tepat untuk ‘membajak’ anak-anak di GFJA untuk membantu aku. Terus terang, aku memang butuh semacam ‘kurator’ untuk memilihkan mana foto yang cukup layak untuk dibukukan.

Membawa ratusan foto dalam kantong plastik, aku ke GFJA di Pasar Baru dengan harap-harap cemas. Rencananya adalah menunjukkan foto-foto itu secara pribadi ke beberapa teman seperti Ari, Tole atau Gunawan, dan berharap mereka membantuku. Ternyata, rencana tinggal rencana! Mereka tengah berkumpul, bahkan bersama dengan Bang Oscar!

Aku hampir mengurungkan niatku karena gentar. Aku biasa berdebat dengan Bang Oscar tapi dalam kapasitasku sebagai penulis. Tapi sebagai fotografer? Nanti dulu! Saat pameran foto bersama tahun 2007 di GFJA, karyaku memang pernah dikurasi olehnya. Tapi itu kan karena aku peserta workshop disana. Lah ini? Foto-foto instagram ‘nggak penting’! Aku merasa kurang pantas untuk dikurasi oleh orang sekaliber Oscar Motuloh untuk project sekecil ini. 

Tapi teman-teman meyakinkan aku. Dengan tangan sedingin es, aku memberikan semua foto-foto yang telah aku cetak seukuran postcard kepada Bang Oscar, seraya berdoa panjang lebar.

Apa reaksi Bang Oscar? Tunggu posting berikutnya yaaaa…. Hahahah!


No comments: