Tuesday, August 30, 2011

Forgiven AND Forgotten.


Memaafkan, juga berarti melupakan.

Kalimat itu aku dengar pada sebuah ceramah singkat oleh Quraish Shihab di TV menjelang adzan subuh. Dan ia langsung menusuk tepat sasaran ke hati kecil yang paling dalam: JLEB!


Jadi, tidak ada konsep ‘fogiven but NOT forgotten’. Jika kamu bilang kamu sudah memaafkan, berarti semuanya harusnya juga sudah dilupakan. Lupa berarti tidak akan diingat-ingat, dan tidak akan diungkit-ungkit pada masa yang akan datang. Sudah. Hilang. Menguap. That’s it.


Makanya, memaafkan itu sangat sangat sangat sulit. Karena memaafkan adalah reaksi yang paling luar biasa kalau ada orang yang berbuat salah kepada kita. Sebenernya, kita boleh marah, tentunya dengan kapasitas marah yang sesuai dengan kesalahan yang dibuat. Marah itu wajar dan diperbolehkan. Tapi kalau kita sanggup menahan marah dan memilih pergi walau hati porak-poranda, itu sudah jauh lebih baik daripada marah-marah. Daaaaannn… yang paling baik dari semuanya tentunya adalah memaafkan. Melapangkan hati 
dan melupakan kesalahan yang dibuat itu. Makanya, sangat-sangat-sangat sulit kan?


Bagiku sendiri, kalau hanya kesalahan-kesalahan kecil mungil unyu-unyu dari orang-orang yang interaksinya terbatas, memaafkan itu sangat mudah. Toh, aku ini orangnya sangat pelupa, dan mudah melupakan. It’s all good lah. Salah-salah dikit sih nggak masalah.


Tapi, bagaimana jika yang melakukan kesalahan adalah orang-orang terdekat? Yang kepada merekalah cinta kita curahkan, orang-orang yang ‘seharusnya’ menyenangkan hati dan jiwa kita, yang pada mereka dunia kita persembahkan? Orang tua, saudara sedarah, pasangan hidup, sahabat-sahabat terdekat, atau keluarga? Katanya, your loved ones hurt you the most. Kalau sudah begini, memaafkan jadi urusan yang agak complicated. Kerap kali, kita akan bilang “Aku memaafkan”, tapi dalam hati kesalahan itu masih diingat-ingat.


Dan tau tidak? Pengalamanku membuktikan, mengingat kesalahan itu seperti racun jiwa. Ia seperti kangker, yang perlahan tapi pasti, menyebar. Membuat kita menjadi orang yang pahit. Yang sulit bersyukur. Yang tidak berbahagia. Bukan hanya putus cinta saja yang membuat tidur tak enak makan tak nyenyak. Meyimpan kesalahan orang lain di hati juga memberikan efek yang sama.


Oleh karenanya, bagiku, memaafkan bukan hanya perkara satu hari di awal syawal. Ia adalah pekerjaan sehari-hari. Setiap hari, aku belajar membersihkan hati, walaupun sedikit demi sedikit. Berusaha menghapus-hapus segala dendam, marah, benci, kesal, kecewa dan lain sebagainya, dengan penghapus nomer satu paling manjur: cinta.


Karena aku tau maaf itu tidak mudah apalagi murah, maka aku lebih memilih untuk menunggu. Aku akan dengan sepenuh hati menunggu, mengharap kalian – orang-orang yang aku cintai dengan sepenuh hatiku - memaafkan kesalahku. Aku bermohon kepada yang kuasa membukakan hati untuk bisa memaafkan aku, sebagai mana aku minta dilembutkan hatiku untuk memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain kepadaku.


So, in the end, we all can live happily ever after.


Selamat Idul Fitri. Aku tunggu maaf darimu. Sepenuh hati.






0 komentar: